Tegalrejo – Dalam upaya mencetak lulusan yang siap bersaing di dunia kerja maupun berwirausaha, SMK Syubbanul Wathon, Tegalrejo, Magelang, menggelar Workshop Penguatan Budaya Kerja Teaching Factory. Bertempat di Gedung Center of Excellence (COE) sekolah, acara ini menghadirkan Untung Supriyadi, S.Pd.I, M.Pd., sebagai narasumber utama, dan dihadiri oleh para dewan pembimbing sekolah.
Membangun Budaya Kerja yang Produktif dan Kondusif
Workshop ini dirancang untuk memberikan wawasan kepada para pendidik tentang pentingnya budaya kerja yang terintegrasi dengan teaching factory (Tefa). Untung Supriyadi menyampaikan, “Budaya kerja yang baik harus berlandaskan pada nilai-nilai profesionalisme dan semangat inovasi. Melalui teaching factory, kita tidak hanya mendidik siswa menjadi pekerja, tetapi juga calon pengusaha.”
Cerita inspiratif tentang sahabat Nabi, Abdurrahman bin Auf, menjadi sorotan utama dalam sesi ini. Dikisahkan, kekayaan beliau bukan hanya menjadi alat ekonomi, tetapi juga sarana dakwah yang membawa manfaat besar bagi umat. “Seperti halnya Abdurrahman bin Auf, kita ingin lulusan SMK memiliki visi yang jelas tentang pentingnya keuangan dan kewirausahaan untuk mendukung misi hidup mereka,” tambah Untung.
Tahapan Teaching Factory: Dari Produksi Hingga Purna Jual

Teaching factory di SMK Syubbanul Wathon tidak sekadar menjadi simulasi, melainkan representasi nyata dari dunia industri. Proses Tefa meliputi:
- Perencanaan: Merancang produk atau layanan sesuai kebutuhan pasar.
- Produksi: Mengolah ide menjadi produk jadi.
- Penyerahan Produk: Menyampaikan hasil kerja kepada konsumen.
- Layanan Purna Jual: Menjamin kepuasan pelanggan dengan pelayanan berkelanjutan.
Pendekatan ini mengintegrasikan pembelajaran berbasis kompetensi, di mana siswa belajar langsung melalui produksi. Materi pembelajaran pun mengacu pada standar industri, menjadikan siswa lebih adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja.
Kompetensi Dasar yang Dikembangkan

Workshop ini juga menekankan pentingnya tiga kompetensi dasar dalam teaching factory, yaitu:
- Sense of Quality: Menanamkan kesadaran akan pentingnya kualitas dalam setiap proses kerja.
- Sense of Efficiency: Mengoptimalkan waktu dan sumber daya.
- Sense of Creativity and Innovation: Mendorong siswa untuk terus berinovasi dalam menghadapi tantangan.
Melalui kegiatan ini, SMK Syubbanul Wathon berharap para pendidik dapat menjadi pionir dalam mengembangkan budaya kerja yang sesuai dengan standar industri. Dengan demikian, siswa tidak hanya lulus dengan bekal teori, tetapi juga pengalaman praktis yang siap diterapkan di dunia nyata.
Workshop ini menjadi langkah penting dalam membangun generasi muda yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki karakter kuat untuk menghadapi tantangan global. Sebuah inspirasi besar dari kisah sahabat Nabi, kini diimplementasikan di dunia pendidikan.






